Pakaian bukan sekadar penutup tubuh. Dalam Islam, pakaian juga mencerminkan akhlak, rasa syukur, kehormatan, bahkan ketaatan seorang hamba kepada Allah SWT. Cara seseorang berpakaian dapat menunjukkan apakah ia sedang mengejar pujian manusia atau mencari ridha Rabb-nya.
Rasulullah SAW memberikan banyak tuntunan tentang pakaian. Ada anjuran untuk bersikap sederhana, ada pula perintah agar seorang muslim tidak tampil lusuh padahal Allah telah memberinya nikmat. Di sisi lain, Islam juga memberikan batasan-batasan tertentu agar manusia tidak terjatuh pada kesombongan dan gaya hidup berlebihan.
Kemuliaan dalam Kesederhanaan
Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang meninggalkan pakaian mewah karena tawadhu kepada Allah padahal ia mampu membelinya, maka kelak pada hari kiamat Allah memanggilnya di hadapan para makhluk untuk disuruh memilih pakaian iman sekehendaknya untuk dipakai.” (HR. Tirmidzi)
Hadits ini mengajarkan bahwa kesederhanaan memiliki nilai besar di sisi Allah. Seseorang yang sebenarnya mampu membeli pakaian mahal, namun memilih hidup sederhana demi menjaga hati dari kesombongan, maka Allah menyiapkan kemuliaan baginya di akhirat.
Di zaman sekarang, ukuran kemuliaan sering dinilai dari merek pakaian, gaya hidup, dan penampilan luar. Tidak sedikit orang berlomba tampil paling mahal demi pengakuan manusia. Padahal kemuliaan sejati bukan pada apa yang dipakai, tetapi pada ketakwaan yang ada di dalam hati.
Kesederhanaan bukan berarti harus miskin penampilan, melainkan tidak menjadikan kemewahan sebagai kebanggaan hidup.
Islam Tidak Mengajarkan Penampilan Kumuh
Di sisi lain, Rasulullah SAW juga bersabda: “Sesungguhnya Allah suka melihat bekas nikmat-Nya kepada hamba-Nya.” (HR. Tirmidzi)
Hadits ini menunjukkan bahwa Islam tidak menyukai sikap berpura-pura miskin atau sengaja tampil memprihatinkan padahal Allah telah melimpahkan rezeki.
Jika Allah memberi nikmat pakaian yang baik, maka boleh dipakai dengan penuh rasa syukur. Berpakaian rapi, bersih, dan pantas merupakan bagian dari adab seorang muslim. Bahkan Rasulullah SAW dikenal sebagai pribadi yang bersih dan menyukai penampilan yang baik.
Yang dilarang bukanlah bagusnya pakaian, melainkan kesombongan di balik pakaian itu.
Karena itu, seorang muslim hendaknya menjaga keseimbangan:
- tidak berlebih-lebihan,
- tidak sombong,
- tetapi juga tidak meremehkan nikmat Allah.
Larangan Sutra dan Emas bagi Laki-Laki
Dalam beberapa hadits, Rasulullah SAW memberikan larangan tegas kepada laki-laki memakai sutra dan emas.
Umar bin Khattab RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kamu memakai kain sutra, karena sesungguhnya orang yang memakainya di dunia, maka kelak di akhirat ia tidak akan memakainya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadits lain, Ali radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku melihat Rasulullah memegang kain sutra di tangan kanannya dan emas di tangan kirinya kemudian bersabda: Sesungguhnya dua benda ini haram bagi laki-laki dari umatku.” (HR. Abu Dawud)
Larangan ini mengandung banyak hikmah. Islam menjaga laki-laki agar tetap berada dalam fitrah ketegasan dan tidak tenggelam dalam kemewahan berlebihan. Selain itu, larangan ini juga menjadi bentuk pendidikan agar kaum laki-laki tidak hidup dalam budaya bermegah-megahan.
Sementara bagi perempuan, sutra dan emas diperbolehkan selama tetap dalam batas kewajaran dan tidak menimbulkan tabarruj atau pamer kecantikan secara berlebihan.
Islam Adalah Agama yang Penuh Kemudahan
Meski ada larangan, Islam tetap memberikan rukhsah atau keringanan dalam kondisi tertentu.
Dari Anas RA disebutkan bahwa Rasulullah SAW memberi keringanan kepada Zubair dan Abdurrahman bin Auf RA untuk memakai kain sutra karena penyakit gatal yang mereka derita. (HR. Bukhari dan Muslim)
Ini menunjukkan bahwa syariat Islam dibangun di atas rahmat dan kemudahan. Ketika ada kebutuhan medis atau keadaan darurat, maka hukum bisa menjadi berbeda sesuai kondisi.
Islam bukan agama yang mempersulit, tetapi agama yang memahami keadaan manusia tanpa menghilangkan prinsip-prinsip utama syariat.
Hikmah yang Bisa Diambil
Dari hadits-hadits tentang pakaian ini, ada beberapa pelajaran penting:
- Pakaian adalah bagian dari ibadah dan akhlak seorang muslim.
- Kesederhanaan lebih mulia daripada kemewahan yang melahirkan kesombongan.
- Islam menyukai kebersihan, kerapian, dan penampilan yang baik.
- Laki-laki dilarang memakai sutra dan emas sebagai bentuk penjagaan fitrah dan akhlak.
- Syariat Islam memiliki kemudahan dalam kondisi tertentu.
Pada akhirnya, pakaian terbaik bukanlah yang paling mahal, melainkan yang paling mendatangkan ketakwaan. Sebab di hadapan Allah, manusia tidak dinilai dari merek pakaiannya, tetapi dari kebersihan hati dan amalnya.
“Dan pakaian takwa itulah yang paling baik.” (QS. Al-A’raf: 26)
