JAKARTA – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI memastikan bahwa hingga saat ini tidak terdapat penambahan kasus baru Hantavirus di Indonesia. Kepastian ini menyusul keluarnya hasil pemeriksaan laboratorium terhadap dua warga yang sebelumnya berstatus suspek di wilayah Jakarta Utara dan Kulon Progo, DI Yogyakarta.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menyatakan bahwa kedua pasien tersebut telah menjalani uji laboratorium dan hasilnya dinyatakan negatif Hantavirus. "Dua suspek sebelumnya dinyatakan negatif. Sampai saat ini belum ada penambahan kasus lagi," ujar Aji pada Jumat (8/5/2026).
Berdasarkan data akumulasi Kemenkes, tercatat ada 23 kasus konfirmasi Hantavirus di Indonesia sepanjang periode 2024 hingga Mei 2026. Dari jumlah tersebut, sebanyak 20 pasien dinyatakan sembuh dan 3 orang meninggal dunia, dengan tingkat fatalitas kasus (Case Fatality Rate/CFR) sebesar 13 persen.
Adapun sebaran 23 kasus tersebut mencakup sembilan provinsi, dengan konsentrasi tertinggi di DKI Jakarta (6 kasus), DI Yogyakarta (6 kasus), dan Jawa Barat (5 kasus). Wilayah lain yang mencatat kasus antara lain Sumatera Barat, Banten, Jawa Timur, NTT, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Utara, masing-masing satu kasus.
Kemenkes menjelaskan bahwa mayoritas kasus di Indonesia didominasi oleh strain Seoul Virus yang menyebabkan Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) atau demam berdarah dengan sindrom ginjal. Strain ini berbeda dengan virus tipe Andes yang sempat mewabah di kapal pesiar MV Hondius baru-baru ini.
Aji juga menghimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap faktor risiko utama penularan, yakni melalui kontak langsung dengan tikus atau celurut yang terinfeksi, baik melalui paparan urine, air liur, maupun kotoran hewan tersebut. Meski risiko penambahan kasus HFRS masuk kategori tinggi dalam penilaian tahun 2025, Kemenkes memastikan seluruh pasien yang sempat diduga terpapar pada awal tahun 2026 kini telah dinyatakan sembuh. (*)
