Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Lebih dari Sekadar Gaya: Menata Hati Lewat Cara Berpakaian

Sabtu, Mei 09, 2026 | Sabtu, Mei 09, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-10T02:10:13Z
Foto: Muhammadiyah.or.id

Dalam dunia fashion modern, cara kita berpakaian seringkali dianggap sebagai bentuk ekspresi diri yang bebas. Namun, dalam Islam, pakaian bukan hanya soal estetika atau pelindung tubuh, melainkan cerminan dari sikap batin.

Beberapa hadis penting yang mengingatkan kita bahwa ada garis tipis antara "tampil rapi" dan "tampil sombong". Berikut adalah poin-poin penting yang perlu kita renungkan:

Kesederhanaan adalah 'Signature Style' Rasulullah

Rasulullah SAW adalah teladan terbaik dalam segala hal, termasuk urusan penampilan. Dari Asma' binti Yazid Al Anshari ra., kita mengetahui batasan fisik pakaian beliau:

"Lengan kemeja Rasulullah SAW hanya sampai pergelangan tangan." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Ini menunjukkan bahwa beliau menyukai pakaian yang pas, fungsional, dan tidak berlebihan. Tidak ada kain yang menjuntai hingga mengganggu aktivitas atau sekadar untuk bermegah-megahan.

Bahaya 'Isbal' dan Akar Kesombongan

Dua hadis dari Ibnu Umar ra. dan Abu Hurairah ra. memberikan peringatan keras mengenai kebiasaan menurunkan kain di bawah mata kaki (Isbal) jika didasari oleh rasa sombong.

"Barang siapa yang menurunkan kainnya di bawah mata kaki karena sombong, maka pada hari kiamat nanti Allah tidak akan melihatnya. (HR. Bukhari & Muslim).

Mengapa ancamannya begitu berat? Karena di masa lalu, pakaian yang panjang dan menjuntai ke tanah adalah simbol kekayaan dan status sosial yang digunakan untuk merendahkan orang lain. Di sini, poin utamanya bukan sekadar pada "panjang kain", tapi pada "penyakit hati" yang menyertainya.

Belajar dari Dialog Abu Bakar RA

Menariknya, hadis ini juga mencatat dialog antara Nabi SAW dan sahabat terdekatnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq RA. Abu Bakar merasa khawatir karena kainnya sering melorot ke bawah mata kaki secara alami.

Rasulullah SAW kemudian menenangkan beliau:

"Sesungguhnya kamu tidaklah termasuk orang-orang yang berbuat semacam itu karena sombong."

Pesan ini sangat penting bagi kita. Islam tidak bersifat kaku secara membabi buta. Allah dan Rasul-Nya melihat niat. Jika kain turun karena faktor fisik atau tanpa unsur kesengajaan untuk pamer, maka ia tidak termasuk dalam ancaman tersebut.

Standar Ideal Berpakaian bagi Muslim

Abu Sa'id Al Khudri RA menjelaskan secara detail bagaimana sebaiknya seorang Muslim mengatur panjang kainnya:

  • Paling Utama: Sampai pertengahan betis.
  • Batas Toleransi: Di antara betis hingga di atas mata kaki (tidak berdosa).
  • Zona Bahaya: Di bawah mata kaki.

Jika hal ini dilakukan karena sombong, taruhannya adalah perhatian Allah di akhirat kelak. Sebuah kerugian besar bagi seorang hamba jika di hari pembalasan, Sang Pencipta tidak sudi memandangnya.

Berpakaian sesuai sunnah adalah tentang keseimbangan. Kita diajarkan untuk rapi namun tetap rendah hati. Menjaga ujung pakaian agar tidak menyentuh tanah bukan hanya soal kebersihan fisik, tapi juga latihan mental agar kita tidak merasa lebih tinggi dari orang lain.

Mari kita periksa kembali cermin kita hari ini. Apakah pakaian yang kita kenakan sudah membuat kita merasa dekat dengan Tuhan, atau justru membuat kita merasa lebih hebat dari sesama?

×
Berita Terbaru Update